Thursday, February 21, 2013

SINERGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PARIWISATA


Pariwisata di Bali memiliki tali temali yang kuat dengan kehidupan beragama, budaya dan pertanian. Budaya kita pada dasarnya adalah budaya agraris, sangat tergantung pada pertanian. Pertanian akan tetap memegang peranan strategis dalam pembangunan pariwisata dan masyarakat Bali modern.  Keberhasilan pembangunan pertanian memberikan kontribusi langsung dan nyata terhadap pengembangan pariwisata budaya.  Pertanian bukan saja menambah indah Pulau Dewata dengan terasering sawahnya, tetapi juga memberikan sumbangan penting terhadap kebutuhan religius masyarakatnya yang mayoritas memeluk Agama Hindu.  Kebutuhan akan air, bunga dan produk  pertanian merupakan kebutuhan riil keseharian masyarakat Bali.

          Industri pariwisata merupakan leading sector bagi perekonomian daerah Bali. Pertumbuhan industri pariwisata di Bali telah mampu mendorong terjadinya perubahan struktur perekonomian Daerah Bali, yang dulu didominasi sektor primer dan sekarang didominasi sektor jasa.  Namun demikian pertumbuhan sektor jasa yang mendukung industri pariwisata tersebut, tidak diimbangi oleh pertumbuhan sector lainnya, sehingga terjadi ketimpangan antar sector perekonomia di Bali.  Hal ini juga menyebabkan terjadinya ketimpangan perekonomian antar kabupaten/kota di Bali yang berdampak pada ketimpangan pendapatan perkapita penduduknya.

          Industri pariwisata  sangat sensitif terhadap berbagai isu negatif,  seperti isu keamanan dan  kesehatan.  Pengalaman kita menunjukkan bahwa adanya kejadian bom di Bali menyebabkan industri pariwisata merosot dan terjadi gelombang PHK.  Berdasarkan pengalaman tersebut  maka pembangunan perekonomian di Bali  ke depan  tidak boleh bertumpu pada industri pariwisata saja. Seharusnya memperhatikan sector yang lain seperti pertanian dan industri .
          Pertumbuhan sektor jasa (yang mendukung industri pariwisata) belum  diimbangi oleh pertumbuhan sektor pertanian dan industri .  Sektor pertanian tumbuh lambat sekitar 2,49% pada 2007 dibandingkan dengan  jasa (pengangkutan dan komunikasi) sebesar 10,86%, Oleh karenanya pada era mendatang diperlukan peran aktif semua stake holders agar  sektor pertanian dapat tumbuh mengimbangi sektor lainnya.  Harus ada sinergi antara sector jasa yang mendukung pariwisata dengan sector pertanian dan industri kecil
          Dalam rangka  meningkatkan sinergi sektor pertanian dengan pariwisata  antara lain dapat dilakukan pengembangan wisata agro dan agrowisata. Wisata agro merupakan pemanfaatan kawasan atau aktifitas budidaya pertanian untuk objek wisata. Hal ini sudah berkembang di beberapa lokasi, misalnya desa wisata, yang memanfaatkan jalan subak sebagai tempat tracking. Namun pada umumnya petani belum memperoleh kontribusi langsung dari kegiatan pariwisata tersebut. Tantangan ke depan  adalah memfasilitasi tumbuhnya wisata agro mulai dari sisi hulu sampai hilir. Semua stake holders harus ikut menumbuhkan wisata ini.
Agrowisata juga perlu dikembangkan  karena petani diharapkan meghasilkan produk pertanian untuk konsumsi wisatawan.    Pemilihan komoditas yang dikembangkan  agar mempertimbangkan  sifat unggul, mutu, kuantitas  dan kontinyuitas produksi . Areal   pengembangan dilakukan dalam kawasan agar efisien dalam pemasaran, penerapan teknologi modern seseuai dengan ekosisitem setempat serta ramah lingkungan dengan mengarah kepada pertanian organik. Disamping itu diperlukan juga pengembangan agroindustri, agar dihasilkan produk olahan berkualitas baik, higinis, serta dengan kemasan yang baik sesuai selera konsumen.

          Dari sisi pelaku pariwisata, diharapkan ada komitmen untuk menampung hasil-hasil pertanian lokal kita, sehingga petani tidak kesulitan dalam pemasaran. Karena secara ekonomi kegiatan pariwisata   akan memberikan pengaruh langsung kepada petani, tidak hanya kepada para pekerja di industri pariwisata saja.

Hotel berbintang serta pengusaha pariwisata yang besar diharapkan ikut menjadi bapak angkat kelompok tani atau gabungan kelompok tani  tertentu, seperti apa yang dikenal dengan CSR (Corporate Social  Responsibility).  Kelompok tani dan pengusaha pariwisata perlu melakukan kemitraan dengan pola yang jelas, baik kemitraan dalam permodalan atau pemasaran produk petani.  Dengan upaya ini petani dharapakan menjadi lebih mandiri dan mampu mengikuti perkembangan situasi perekonomian.
         
          Produk pertanian kita secara tersistem perlu terus dikampanyekan kepada masyarakat, sehingga mereka mengetahui apa yang kita hasilkan dan apa kelebihannya dibandingkan dengan produk pangan impor.  Misalnya dilakukan pameran buah pada hari hari tertentu, lomba pengolahan pangan lokal dan menu khas daerah kita.

                        Mudah-mudahan pelaku pariwisata dan pelaku pertanian mau saling mengisi serta berkreasi untuk mewujudkan  suatu kegiatan  yang bisa saling mengutungkan, sehingga ke depan makin banyak kegiatan kepariwisataan yang dapat memberikan dampak langsung kepada petani, sehingga pembangunan pertanian tetap lestari